Learn & Learning

Learning knows no gender, time & space

Thursday, August 06, 2009

Pohon Sampel & Lbds KB Smalian

Posted by a2karim

Untuk konseptor IHMB

Dulu..... Sejak aku belajar tentang ilmu-ilmu kehutanan, hingga kini masih mempelajari cara-cara perhitungan kayu bulat. Keterkaitan dengan kayu bulat tersebut adalah materi pelajaran Ilmu Ukur Kayu. Semua rumusan/perhitungan kayu bulat di Indonesia yang ditetapkan oleh Departemen Kehutanan RI menggunakan rumusan Brereton (modifikasi rumus Huber) dengan dasar pemikiran lebih mengutamakan kosumen (under estimate). Rumusan tersebut juga berlaku untuk batang pohon yang diukur secara seksi (section).
Menelaah rumusan/perhitungan volume batang pohon pada IHMB (Inventarisasi Hutan Menyeluruh dan Berkala) tahun 2007 (p.34) dan direvisi tahun 2009 (p.33) yang digunakan untuk contoh (sample) pada perhitungan seksi (rumus Smalian) lebih menguntungan produsen (over estimate).


Rumus dasar Smalian :
Vs = 1/2 . (Bp + Bu) . P
Bp & Bu = lbds bontos pangkal dan ujung
P = panjang batang

Selanjutnya lbds di kedua bontos dalam satuan m-kuadrat (m^2);
hal.73, panjang seksi 2 meter (pohon hutan rimba). Volume kayu bulat adalah penjumlahan volume seluruh seksi batang kayu ybs.

Tetapi tidak ada penjelasan bagaimana :
1. memperoleh lbds kedua bontos, dengan pengukuran keliling. Bila terjadi kesulitan (menempel pada tanah) dilakukan penggalian. Apakah tidak ada cara lain, misal mengukur diameter saja. Apakah (a) diameter terpendek dan diameter tegaklurus terpendek, atau (b) diameter terpendek dan diameter terpanjang. Mungkin lebih bijak. Tentunya secara keseluruhan disesuaikan. Kenapa? Lihat pada Bab III (hutan rimba) dan Bab IV (hutan tanaman) untuk menentukan lbds yang diukur diameter dan bukan keliling.
2. Panjang seksi ditetapkan 2 meter; kenyataannya panjang batang (kayu bulat) tidak habis dibagi 2, maksudnya pada seksi (section) bagian ujung tidak selalu 2 meter; bisa kurang dari 2 meter.

Untuk jelasnya ketidak-jelasan yang dimaksud :
1. Penentuan Pohon-pohon Sampel (V.B. Tahap Pembentukan Persamaan Volume); p.33, hal-70. Bagaimana teknik pengambilan pohon sampelnya? Hanya dimisalkan 200 phn, kemudian 140 phn utk penyusunan model dan 60 phn utk uji validasi. Dst. Kalau misal 150 phn bagaimana? Apakah berati 105 phn utk penyusunan model dan 45 phn utk uji validasi? Dasar ilmiahnya tidak jelas.

2. Pengukuran dan Pengumpulan Data (V.B. Tahap Pembentukan Persamaan Volume); p.33, hal-71. Lihat sub d. Menghitung volume ..dst… (perhatikan kalimatnya).

Untuk menentukan lbds dikedua bontos menurut pemikiran kami sebagai berikut :
1. pengambilan sampel hendaknya didasarkan jumlah phn dalam 100 ha. Jumlah phn yang dijadikan sampel sebaiknya bersifat pewakil.
2. tidak ada ketentuan yang bersifat keharusan. Tetapi oleh Dephut utk IHMB ini ditetapkan adalah keliling. Berati untuk memperoleh lbds setinggi dada yang diukur adalah keliling dan bukan diameter. Dapat dilihat pada Bab III (hutan rimba) dan Bab IV (hutan tanaman).
3. Untuk mengatasi kesalahan konversi satuan ukuran (ini berdasarkan pengalaman temuan lapangan), maka cara perhitungan lbds bontos (B) yang didasarkan pengukuran keliling dengan rumus :
B = (7/880000).K^2 m^2 (K tetap dalam cm)

4. Panjang batang telah ditetapkan 2 meter (p.33, hal-71), maka bila :

a. seksi bagian ujung sepanjang 1 meter atau lebih, maka dijadikan seksi berikutnya. Misal panjang batang 11,4 m; berarti diperoleh 6 seksi. Seksi terakhir sepanjang 1,4 m.
b. seksi bagian ujung kurang dari 1 meter, maka dimasukkan/digabung ke seksi sebelumnya. Misal panjang batang 12,7 m; berarti diperoleh 6 seksi. Seksi terakhir sepanjang 2,7 m.


Vs1 = 1/2.(Bp + B12).P1(m) M3

Vs2 = 1/2.(B12 + B34).P2(m) M3

------------------- dst ------------------

Vsn = 1/2.{B(n-1,n) + Bn}.Pn(m) M3


Volume kayu bulat (seluruh seksi) diperoleh :
Vss = (Vs1 + Vs2 + ….. + Vsn) M3

Sebenarnya banyak lagi yang lainnya. Tapi dua point di atas cukup mengggugah dan memang berkaitan dengan bidang yang saya geluti.

Sebagai masukan bahwa ada baiknya IHMB untuk hutan rimba dan hutan tanaman dipisahkan (dijadikan 2 buku pedoman). Mengapa? Disamping mengatasi ketebalannya, juga untuk mengatasi kesalahan membaca/memahami saat membuka halaman yang ditelaah.

Semoga IHMB dapat berjalan mulus hingga 10 tahun ke dapan dan berlanjut ke 10 tahun kedua. Karena IHMB bagai anak kecil yang dipaksakan untuk berlari. Kita tunggu bersama bukti nyatanya.

Salam rimbawan

A2karim

Thursday, July 23, 2009

Jelajah Balai Gajah bersama IHMB

Posted by a2karim

Masuk hutan bagi seseorang yang membidanginya, bukan hal yang asing lagi. Namun pengalaman kali ini (di wilayah hutan Purukcahu) membuat saya tidak habis pikir. Pengalaman dan pemikiran singkat berikut saya pilah menjadi tiga bagian : (1) P.33/Menhut-II/2009, (2) pengalaman lapangan dan (3) hati yang tergugah

A. P.33/Menhut-II/2009 (Hutan Alam); Beberapa aturan yang masih mengganjal a.l. :
1. secara umum P.33/Menhut-II/2009 :
a. lebih sesuai untuk penelitian dan bukan untuk kerja perusahaan (kecuali perusahaan secara tak langsung dijadikan balai penelitian bayangan).
b. agaknya seperti Amdal, tapi setelah ditelaah lebih lanjut ternyata tidak juga. Karena hanya tanah (tekstur) yang menjadi perhatian, sedangkan fauna dan air (sungai) tidak diperhatikan. Berarti bukan Amdal, tapi dikatakan “menyeluruh” ternyata tidak juga. Sifat menyeluruhnya kepalang tanggung.

2. Data tekstur (hal.20-21) untuk membuat peta tektur tanah. Bagaimana pengambilan samplenya, analisisnya? Tidak jelas!!. Ada baiknya, rekaman data tekstur tanah dipisahkan/dikeluarkan dari IHMB. Karena kalau dipaksaan tetap tidak akurat. Apapun alasannya pasti menggunakan sistim prediksi.

3. Satu (1) regu = 6 orang masih wajar untuk lapangan datar. Pada ha.6 ditulis “sekurang-kuranya”. Dalam kenyataannya sukar untuk lebih dari 6 orang; bila lebih berarti ada bertambahan biaya. Tapi untuk wilayah yang berbukit dan bergunung (istilah saya : gunungnya ba-lipat2), apalagi dengan cara flying camp sangat memberatkan. Lebih layak 1 regu sekitar 8 s/d 10 orang (pemikiran kami setelah dari lapangan).

4. Pemidahan plot (hal.18-19) hanya diuraikan bila ditemukan sungai. Bagaimana bila ditemukan gunung batu. Misalnya Gunung Bondang di Prop. Kalimantan Tengah. Perlu ditambahkan bila ditemukan "gunung batu" atau lainnya dengan solusi apakah dipindahkan atau tidak dibuat plot pada rancangan awal.

5. Tongkat bantu sepanjang 5,5 meter (dapat dipanjangpendekan) (hal.67). Ini sebenarnya mempersulit kerja di lapangan dan lebih sesuai untuk penelitian. Apakah pengukuran tinggi dengan clinometer tanpa tongkat bantu tsb kurang akurat? Relative. Teori OK, tapi pelaksanaannya lihat saja!!!. Memang aku tahu bahwa rumus tsb mengabaikan jarak lapangan.

B. Pengalaman lapangan;
Pengalaman yang terkait di lapangan hendaknya :

1. peta kerja (untuk suryevor) yang akan dipersiapkan benar-benar peta yang akurat. Peta yang menggambarkan kondisi lapangan, terutama kebenaran skala dan kontur.

2. perancang kerja lapangan hendaknya orang yang mengerti/memahami kondisi lapangan yang akan di survey. Ini penting untuk menentukan jumlah tenaga kerja dan prakiraan waktu kerja untuk menyelesaikan sejumlah titik ukur tertentu. Semua orang bisa merancang kerja lapangan, tetapi tidak semua yang mengerti seluk-beluknya.
Pengalaman kami dengan 1 regu = 5 tenaga kerja (3 orang labor) diminta untuk menyelesaikan pengukuran 75 titik dalam 2 minggu (15 hari) adalah suatu yang mustahil, tidak wajar. Menurut perhitungan kami berdasarkan kondisi lapangan yang ada (bahkan sebelumnya sudah saya diprakirakan), 75 titik tsb akan dapat diselesaikan selama lebihkurang 37 hari kerja efektif dengan catatan : (1) per-hari sekitar 1-2 titik, (2) jarak antara 2 titik sejauh 650 meter, (3) lapangan bergelombang hingga bergunung. Besar kelerengan yang pernah kami ukur sampai lebihkurang 70deg atau 156%. Catatan : sudut 45deg = 100%. Perlu digaris-bawahi bahwa ini hanya untuk pengukuran pancang, tiang dan pohon; belum termasuk slope, tanah dan lainnya. Kesimpulan pemikiran kami bahwa 3 hari hanya mampu menyelesaikan 2 titik.

3. GPS yang akan digunakan hendaknya telah teruji untuk di bawah tegakan (hutan rimba).
Pengalaman kami : pernah terjadi arah utara pada GPS berlawanan arah 180deg dengan kompas tangan. Kami memutuskan waktu itu adalah arah utara kompas yang lebih dipercaya. Utara GPS hanya dapat dipercaya saat awal pencarian titik. Itupun tidak berada di bawah tegakan.

4. perlu tim khusus untuk observasi lapangan atau paling tidak mencari informasi lapangan dari orang-orang surveyor perusahaan; sehingga tidak terjadi kekeliruan dalam merancang kedudukan titik pengamatan (plot contoh). Sebagai contoh : titik (plot contoh) berada di atas gunung batu Bondang, Kalimantan Tengah (info regu lainnya). Apakah titik tsb mau dipindahkan atau diabaikan?

5. untuk survey yang memerlukan waktu lama (misal diprakiraan 1 bulan atau lebih) diperlukan base camp. Karena a.l. semua barang konsumsi tidak mungkin sekaligus dibawa semuanya mengingat survey dengan cara flying camp. Bila ada kecelakan atau sakit lebih cepat ditangani. Juga tidak rugi rasanya bila sedikit menyisihkan dana untuk asuransi jiwa.

C. Hati yang tergugah
1. di harapkan IHMB dalam perjalanannya memberikan manfaat kepada semua pihak, termasuk kelestarian hutan kita. Salahkan diri kita, bila IHMB berjalan tidak mulus, tidak seperti yang diharapkan. Jangan salahkan system. IHMB produk kita. Jangan dibolak-balik. Sudah terlalu banyak pengalaman kita pada pelaksanaan TPI dan TPTI.

2. perancang kerja lapangan hendaknya memang benar-benar orang yang membidanginya. Sehingga kelemahan-kelemahan yang mungkin terjadi di lapangan tidak menggelitik hati. Paling tidak sebelumnya sudah di antisipasi.

3. Aku masih ragu IHMB dengan P.33/Menhut-II/2009 (23 Mei 2009) (sebelumnya P.34/Menhut-II/2007, 24 Agustus 2007; tidak berlaku lagi) dapat berjalan mulus. Kita tunggu dan aku menunggu keraguan ku tsb terbukti, bahwa pasti masih ada revisi ulang. Mengapa? Karena masih banyak yang perlu dibenahi, antara lain :
a. siapa pun yang membaca P.33/Menhut-II/2009, bahwa isi IHMB masih bercorak penelitian dan inventarisasi hutan makin dipersulit.
b. kata “menyeluruh” tidak sesuai. Apanya yang menyeluruh. Vegetasi pohon OK menyeluruh, tanah hanya tektur dan lereng, air (sungai) dipertanyakan, fauna dipertanyakan. Datapun masih berupa sample.

Saya tidak berharap bahwa pengalaman dan pemikiran ini menjadi masukkan Departemen Kehutanan. Saya hanya berharap agar aturan-aturan yang dikeluarkan Departemen Kehutanan lebih banyak membaca/memahami kondisi lapangan (kesulitan dan kemudahan). Teori perlu, namun bagaimana aplikasi lapangannya apakah wajar. Ketidak-wajaran aplikasi lapangan sama artinya secara tidak langsung mengundang kebohongan. Kalau dipaksakan tentu kita akan tahu semua bagaimana hasilnya. Disamping itu perlu diingat bahwa manusia lebih pandai dari komputer, tidak sebaliknya.

Salam Rimbawan
A2Karim

Wednesday, March 25, 2009

Spiegel : Adjustment formula Diameter*

Posted by a2karim

Use Spiegel Relaskop basically want a relatively flat field. Dimensional measurements of trees in forest plantations can still be said to not invite constraint. However, in the wilds often face obstacles. Generally relatively high levels of density with irregular distribution, let alone be in the land that is undulating or hilly. Constraints referred to is when measuring the diameter of a rod with a sloping land surface.
The formula used for determining the diameter is

D (cm) = [{(nF x 4) + nQ}/2] . Jd

This formula applies only to the position of measurement in the land is relatively flat (flat distance measurement). When the angle formed between the measuring against a tree trunk at 10% or more, then the formula needs to be an adjustment (Simon, 1996).
Form of adjustment (correction angle) formulation uses cosine with the scale upright (vertical) on Spiegel Relaskop (degree scale ranging –90° s/d +90° or scale percent –150% s/d +150%) magnitude and angle similarity 45° = 100%.

Jm = Jd/(cos φ) or Jd = Jm cos(φ)

When the value of φ = α°, then Jd = Jm cos (α°)
When the value of φ = p%, then Jd = Jm cos (0.45 p)

So that the magnitude of the adjustment calculation formula diameter:

D (cm) = [{(nF x 4) + nQ}/2] . Jm . cos(α°)
D (cm) = [{(nF x 4) + nQ}/2] . Jm . cos(0,45 p)

A simple example:
1. The result of reading the bar at the crack of view gained 3 full bars and at 1.5 to 1/4 bar. Shot as far as 12 meters at an angle viewfinder 4°03’00”.
D (cm) = [{(3 x 4) + 1,5}/2] . 12 = 81,0

2. The result of reading the bar at the crack of view gained 3 full bars and at 3.5 to 1/4 bar. Shot as far as 12 meters with a 11% angle viewfinder.
D (cm) = [{(3 x 4) + 1,5}/2] . 12 . cos(0,45 . 11) = 92,6

A2Karim
*) findings & frame of mind. 080601
** a more complete description (in Indonesian) you can have for free (do not pay koq) by contacting us via eMail a2karim08