Learn & Learning

Learning knows no gender, time & space

Saturday, September 05, 2009

Mengenal Galam Cajuputi*

Posted by a2karim

1. Nama Botanis
Galam merupakan genus Melaleuca dari famili Myrtaceae. Pada awalnya nama botanis galam (lahan rawa gambut atau pasang surut) adalah Melaleuca leucadendron Linn. samadengan nama galam kayu putih (Tim Teknisi Eksploitasi Hutan, 2000). Sacara morfologis adalah sama, tapi untuk kandungan minyaknya berbeda. Galam kayu putih lebih banyak mengandung “minyak kayu putih” dibanding galam lahan rawa. Sehingga penamaan botanis untuk galam lahan rawa (gambut atau pasang surut) adalah Melaleuca cajuputi Roxb (Proyek PKKHNNK, 1973 dan Lazuardi, 2000).
Masyarakat di desa Antar Raya (Kab. Barito Kuala, Prop. Kalimantan Selatan) membedakan jenis galam ke dalam 2 varitas, yaitu galam tembaga dan galam putih. Galam tembaga memiliki kulit lebih tipis dan lebih licin dari kulit galam putih. Galam tembaga biasanya tumbuh di tepi-tepi sungai dan galam putih tumbuh agak lebih ke dalam (Tim Teknisi Eksploitasi Hutan, 2000; Oktriyana, 2003).

2. Sifat Botanis
Sifat fisik pohon galam tidak berbanir. Bentuk batang bulat panjang, agak lurus dan tinggi dapat mencapai 15 meter atau lebih. Tinggi bebas cabang dapat mencapai ±60%.
Batang terbungkus dengan kulit oleh kulit-kulit tipis yang berlapis-lapis sehingga membentuk kulit yang tebal, berwarna kekuning-kuningan dan amat mudah lepas. Bila lapisan kulit tebal terserbut kering akan bersifat seperti gabus, sehingga tidak mudah menyerap air. Kayunya keras, berat jenis 0,85, kelas awet III dan kelas kuat II (Tim Teknisi Eksploitasi Hutan, 2000).

3. Pertumbuhan
Hutan galam merupakan hutan khas daerah hutan rawa gambut dengan kemasaman tanah yang cukup tinggi. Umumnya hutan galam merupakan hutan homogen. Namun ada pula yang tumbuh di hutan air tawar. Disamping pohon galam merupakan pohon toleran terhadap kondisi tanah masam dan tergenang.


Hutan Galam ini berada di jln Lingkar Utara (jln Gubernur Syarkawi) (kiri: latar belakang htn galam dengan latar depan yang sdh dimanfaatkan ; kanan: htn galam yang terbakar dengan latar belakang RuSaJi "Sambang Lihum"). Kec. Gambut, Kab. Banjar. (Foto 090905N73)
Awal musim penghujan hutan galam yang telah terbakar akan tumbuh kembali dengan tumbuhan bawah sebagian besar jenis paku-pakuan.

Pertumbuhan galam yang berasal dari :
1) biji (generatif) umumnya relatif lurus dan mempunyai bentuk percabangan monopodial. Sehingga batangnya banyak digunakan untuk bahan/kayu bangunan.
2) trubusan mempunyai bentuk batang cenderung bengkok dengan bentuk percabangan sympodial. Sehingga pemanfaatan batang untuk kayu bakar. Kecuali bila diameter batang > 20 cm dengan panjang batang bebas cabang > 4 meter dijadikan kayu pertukangan (Lazuardi, 2000).


Galam berasal dari biji (kiri) & trubusan (kanan) (090909N73)
Kec : Landasan Ulin (PemKo Banjarbaru)

Klasifikasi tingkat pertumbuhan (Daryono, 2000) jenis galam lahan rawa gambut (Melaleuca cajuputi Roxb) adalah :
1) Tingkat semai dengan diameter <> 2 cm – 10 cm
3) Tingkat tiang dengan diameter > 10 cm - 20 cm
4) Tingkat pohon dengan diameter > 20 cm



Galam pada tingkat semai, pancang, Tiang & Pohon (090909N73)
Kec : Landasan Ulin (PemKo Banjarbaru) & Mtp. Barat (Kab. Banjar)

Bentuk tajuk tidak teratur, agak jarang dan selalu hijau. Daun berbentuk bulat telur (ellips) dan meruncing di bagian ujungnya (Direktorat Bina Program, 1975).

4. Manfaatnya
Pohon galam bermanfaat serba guna sejak dari buah, daun, kayu hingga kulitnya. Namun yang banyak dimanfaatkan selama ini adalah berupa kayu batang dan kayu bakar. Secara garis besar pemanfaatannya dirangkum menjadi pemanfaatan bersifat ekonomi dan ekologis.

1) Manfaat Ekonomi
a. Kayu galam dimanfaatkan antara lain :
# kayu galam sangat berperan dalam pembangunan rumah dan gedung bertingkat yaitu sebagai pondasi cerucuk dan penyangga waktu pengecoran beton. Juga sebagai bahan baku penunjang.


Pembangunan rumah & Masjid Darul Muhsinin (090906N73)
Kec : Mtp Timur (Kab. Banjar) & Bati-bati (Kab. Tanah Laut)

# sebagai "siring" (penyangga tanah sementara) untuk jalan atau halaman rumah.


Urukan tanah pembuatan jalan (kiri)dan halaman rumah (kanan) (090906N73)
Kec. Liang Anggang (PemKo Banjarbaru) & Kec. Mtp Barat (Kab. Banjar)

# sebagai cerucuk (bhs Bnjar) yaitu penyangga saat pembuatan jalan layang & jembatan penyeberangan.


Jln layang & jbtan penyeberangan (desa Tangkas & Sungai Kitanu) (090907N73)
Kec. Martapura Barat (Kab. Banjar)

# di pedesaan lebih banyak digunakan sebagai kayu bakar.


Kayu bakar siap belah (kiri) & siap jual (kanan) (090906N73)
Kec. Bati-bati (Kab. Tanah Laut)

# sebagai bahan baku kerajinan seni seperti bentuk asbak rokok.
# sebagai bahan baku penggergajian, pembuatan arang dan briket arang.
# sebagai pahalatan (bhs Banjar) yaitu batas tanah hak milik sementara (biasanya ditanam pada galangan batas, lihat ada patok batas) yang sekaligus sebagai peneduh. Namun ada pula yang menggunakannya sebagai peneduh rumah.


Penggunaan galam sebagai pahalatan dan peneduh rumah (090908N73)
Kec. Sungai Tabuk (Kab. Banjar)

b. Kulit kayu tidak banyak dimanfaatkan. Bila tak ada pembeli atau tidak digunakan sendiri biasanya hanya dibakar begitu saja. Kulit yang dibeli atau untuk keperluan sendiri digunakan sebagai "himbukan"; yaitu menutup lubang dengan kulit kayu galam dan setelah cukup padat, kemudian ditutup dengan tanah (penghematan sementara). Biasanya (info masy.) setelah 3 bulan akan terjadi penurunan dan selanjutnya akan diisi/diratakan dengan tanah.


Kulit kayu dan himbukan di depan rumah (090906N73)
Kec. Bati-bati (Kab. Tanah Laut)

c. Daun galam digunakan sebagai bahan baku pembuatan obat-obatan. Minyak kayu putih disebut juga sebagai cajaput oil (Proyek PKKHNNK, 1973) atau kajaput (Tim Teknisi Eksploitasi Hutan, 2000).
d. Buah galam yang telah dikeringkan, dimanfaatkan sebagai pengganti lada hitam. Pemanfaatan ini dilakukan masyarakat di desa Antar Raya, Sungai Raya dan trans Talaran (Kab. Barito Kuala) sebagai nilai tambah (Oktriyana, 2003). Buah-buah tersebut dijual melalui Agen dan selanjutnya dikirim ke industri di Jawa untuk pembuatan jamu (pengganti merinca) dan memperbanyak komposisi jamu (Jamu Air Mancur, Salatiga).


Bunga, buah muda & buah tua (090906N73)
Kec. Liang Anggang (PemKo Banjarbaru)

2) Manfaat Ekologis
Galam termasuk jenis tumbuhan yang tahan terhadap kebakaran dan kekeringan. Ini disebabkan ekologis galam yaitu fire-climax, dimana daerah bekas kebakaran menyebabkan biji galam akan tumbuh dengan cepat dan lama kelamaan akan mendominasi daerah tersebut (Lazuardi dan Supriadi, 2000).
Galam juga memiliki toleransi yang tinggi terhadap kebakaran. ini disebabkan adanya kulit yang tebal, sehingga mampu menahan panas yang berlebihan dan mampu melindungi kambium dari kerusakan.
Galam tidak memerlukan persyaratan tumbuh yang tinggi, terutama kesuburan tanah. Daya tumbuh dan toleransi yang tinggi mampu tumbuh pada tanah yang kurang subur.
Daun muda (pucuk) merupakan sumber makanan bagi bekantan (Nasalis larvatus) (Soendjoto dan Akhdiyat, 2001).

5. Sebaran
Galam (Melaleuca spp) tersebar di Asia Tenggra dari Semenanjung Malaka hingga ke Kepulauan Maluku (terdapat di Fhilipia). Khusus di Kalimantan Selatan menyebar secara alami di lahan rawa gambut dan pasang surut (rawa air tawar). Juga ditemukan di lahan yang relatif kering (bekas hutan kerangas) seperti di Sebuhur, Liang Anggang. Sedangkan keberadaan hutan galam di wilayah Kelurahan Landasan Ulin (PemKo Banjarbaru) akibat adanya intervenasi air daerah Liang Anggang Kec. Bati-bati (Kab. Tanah Laut).

*) Hasil Jelajah dan Ulasan dari judul asli “Potensi Hutan Galam dan Pemanfaatannya di Kelurahan Landasan Ulin Timur, Kecamatan Landasan Ulin, Banjarbaru”, Tahun 2003. Karim,A.A. Fakultas Kehutanan Unlam, Banjarbaru (Makalah/Tesis).

A2Karim

Friday, August 14, 2009

Mengenal Ramin tanpa nia*

Posted by a2karim

Kayu Ramin dihasilkan oleh pohon yang termasuk marga (genus) Gonystylus dari suku (family) Tyhmelaeaceae yang banyak tumbuh di daerah rawa gambut dalam hutan alam. Di Indonesia diperkirakan terdapat sekitar 10 (sepuluh) jenis pohon Ramin, antara lain: G.affinis A.Shaw, G.brunescens A.Shaw, G.confuses A.Shaw, G.forbesii Gilg, G.keithii A.Shaw, G.macrophyllus A.Shaw, G.maingayi Hk.f, G.velutinus A.Shaw, G.xylocarpus A.Shaw dan G.bancanus (Miq.) Kurz. Ramin merupakan nama yang ditujukan untuk jenis: G.xylocarpus A.Shaw, G.velutinus A.Shaw dan Gonystylus bancanus (Miq.) Kurz. Untuk jenis G.affinis A.Shaw dan G. forbesii Gilg sering disebut sebagai kayu minyak.
Selengkapnya ........
*) Judul asli : Pengenalan Pohon Ramin

Friday, May 15, 2009

Angkis Meratus*

Posted by a2karim

Angkis (bhs Dayak Loksado, Pegunungan Meratus) lebih dikenal dengan sebutan sarang-semut (samut). Jenis angkis yang banyak ditemukan adalah Myrmecodia tuberosa Bentuknya mirip umbi, di bawah batang tanaman yang menggelembung. Bagian yang menggelembung itulah yang banyak dimanfaatkan sebagai bahan baku obat dan digunakan masyarakat sebagai tanaman obat. Di dalamnya terdapat tiga jenis semut Irydomyrmex sebagai penghuninya.
Sampai saat ini belum ada data base yang menginformasikan komposisi jenis dan potensi angkis berdasarkan karakteristik ekologis habitatnya. Sementara peredaran angkis alam di pasaran sebagian besar berasal dari kawasan hutan lindung Loksado di Pegunungan Meratus, Kalimantan Selatan. Angkis tersebut diproduksi dalam bentuk ekstrak sebagai minuman suplemen.
Hasil penelitian diharapkan dapat memberikan informasi karakteristik ekologis habitatnya sehingga dapat dijadikan sebagai data base dan sekaligus sebagai upaya pembudidayaannya untuk menunjang kelestarian angkis di hutan alam.
Tumbuhan angkis ini secara morfologi terbagi atas umbi, batang, daun dan bunga. Umbi batang angkis yang ditemukan ada yang bulat dan ada yang bulat memanjang (lonjong). Bentuk lonjong ini yang paling banyak ditemukan. Demikian pula bentuk daunnya bulat memanjang (lonjong). Permukaan umbi batang berwarna cokelat keabu-abuan dan diselimuti oleh duri-duri kecil. Ketika umbi batang tersebut dibelah, akan nampak lapisan dalam yang berongga-rongga dan di dalamnya banyak dihuni oleh semut.
Memperhatikan ukurannya diperoleh angkis (Myrmecodia tuberosa)berukuran kecil (p-rata2 = 5 cm; d-rata2 = 3-5 cm; berat basah = 0,25 kg/umbi ) dan berukuran besar (p-rata2 = 40 cm; d-rata2 = 15 cm; berat basah = 5 kg/umbi).

Bunga angkis sangat kecil dan berwarna orange. Pembungaan mulai sejak beberapa ruas terbentuk dan ada pada tiap buku. Dua bagian pada setiap bunga berkembang pada suatu kantong udara yang berbeda. Alveoli tersebut mungkin ukurannya tidak sama dan terletak pada tempat yang berbeda di batang. Kuntum bunga muncul pada dasar alveoli. Di dalam bunga tersebut terdapat biji.

Hasil inventarisasi jenis pohon inang angkis (terurut sesuai gambar) adalah asam, bayuan, bijai, cangkring (dadap), gala-gala, gintungan, hambawang, jalamo, karet, kasturi, kemiri, merumbung, mikumbang, rambutan, tiwadak/cempedak.

Penyebaran sarang semut selain berada pada wilayah topografi lereng bawah dan dekat sungai, untuk saat ini keberadaannya meliputi penutupan vegetasi berupa hutan, perkebunan (kebun campuran), belukar dan kawasan pemukiman.

Menurut masyarakat, ada 2 jenis angkis yang sering ditemukan di hutan, yaitu angkis merah dan angkis putih. Perbedaan keduanya terletak pada warna batangnya jika dibelah. Pada angkis merah, setelah dibelah batangnya kelihatan di dalamnya warna merah dan pada angkis putih, warna batang bagian dalamnya berwarna putih. Angkis merah sudah sangat jarang ditemui, bahkan dalam penelitian ini belum/tidak ditemukan lagi angkis merah tersebut.

Team Peneliti

Berdasarkan analisa lapangan diperoleh bahwa :
1. Hanya ditemukan 1 jenis angkis (Myrmecodia tuberosa) dan oleh masyarakat dikenal sebagai ”angkis putih”.
2. Tumbuhan yang ditemukan sebagai pohon inang angkis sebanyak 15 jenis (aslinya 17 jenis).
3. Potensi pohon inang rata-rata sebanyak 11,5 pohon/ha. Potensi angkis rata-rata sebanyak 127 buah/ha. Atau secara keseluruhan (kecamatan Loksado) ditemukan sekitar 102.127 pohon inang dan angkis sebanyak sebanyak 1.127.841 buah.
4. Angkis di kecamatan Loksado diperkirakan seberat 3.383.524 kg atau hampir 3,4 ton berat basah.
5. Kondisi ekologi yang paling berperan tentang keberadaan angkis adalah intensitas cahaya.

*) Judul asli : "INVENTARISASI KOMPOSISI JENIS DAN POTENSI TUMBUHAN SARANG SEMUT (MYRMECODIA SP) BERDASARKAN KARAKTERISTIK EKOLOGIS HABITATNYA DI KAWASAN HUTAN PEGUNUNGAN MERATUS KALIMANTAN SELATAN"
*) Peneliti : IR. GUNAWAN, MP; DRS. SUYANTO, MP; HAFIZIANOR, S.HUT, MP

Disarikan oleh A2Karim

Tuesday, May 12, 2009

Mengenal Ulin Sirap

Posted by a2karim

Nama Botanis dan Daerah

Kayu ulin yang juga dikenal sebagai kayu besi (ironwood) secara botanis terdiri 2 jenis, yaitu ulin sirap (Eusisedroxylon zwageri) dan ulin tiang (Eusisedroxylon malagangai) termasuk famili Lauraceae. Dari kedua jenis ulin ini yang banyak perhatian adalah ulin sirap, disamping memang populasinya jauh lebih banyak dibanding dengan ulin tiang.
Berdasarkan fisiologis pohon sukar dibedakan. Untuk membedakannya dengan sedikit mengkoak (mengupas ) sebagian kayunya. Kemudian sebagian kupas kayu tersebut diracik membujur urat kayu. Bila mudah diracik maka pohon tersebut merupakan jenis ulin sirap. Sebaliknya bila tidak maka dapat dinyatakan sebagai ulin tiang. Urat kayu ulin tiang lebih banyak berbelok-belok (tidak lurus), sehingga sukar diracik.
Disamping nama botanis, juga mempunyai nama-nama daerah seperti delian, bulian, tebelian, balian, belun, talian, tabulin, telian, telihan, telisai, tihing, tulian, onglen, uncalin, kalangkala ayam dan ulin sendiri.

Sifat Botanis
Pohon dewasa umumnya mencapai tinggi sekitar 30 – 35 meter dengan diameter ± 120 cm. Pada pohon-pohon tua umumnya berdiameter sekitar 60 – 80 cm. Koopman & Verheof (1938) pernah menemukan ulin berdiameter ± 200 cm.
Batang biasanya lurus dan kadang-kadang dijumpai pula bonggolan-bonggolan yang merupakan bekas cabang yang tumpul. Kayu mengandung zat ekstraktif silikat. Batang bebas cabang setinggi ± 15 meter atau berkisar 10 -20 meter. Tapi penah pula ditemukan tinggi bebas cabang hingga ± 25 meter (Koopman & Verheof, 1938). Percabangan tidak banyak dengan ranting-ranting yang tipis dan kebanyakkan menggantung.
Tebal kulit batang sekitar 0,5 – 1,5 cm dengan warna coklat kemerahan (De Veer, 1954). Kulit kayu mengelupas secara alami dengan ketebalan sekitar 2 – 4 mm.
Tajuk rapat dan menyebar lebar dengan cabang-cabang yang mendatar. Kedudukan tajuk dalam hutan campuran pada stratum B (Weiss, 1957).
Daun ulin merupakan daun tunggal. Letaknya berjejer saling bergantian secara teratur pada jarak yang sama. Daun muda dibentuk pada awal musim penghujan. Awalnya berwarna merah kemudian kuning muda, hijau muda dan akhirnya hijau mengkilap. Aroma daun muda bila diremas seperti aroma jambu air. Bentuk daun berupa elips (bulat lonjong) dengan panjang daun sekitar 12 – 30 cm dan lebar sekitar 6 – 10 cm. Ulin tidak termasuk jenis yang menggugurkan daun.
Ulin berbunga tidak teratur. Pembungaan terbanyak pada pertengahan atau akhir musim kemarau. Bunga sangat kecil sebesar ± 1 mm. Kumpulan bunga dalam tangkai sepanjang 5 – 10 cm dan muncul pada ketiak-ketiak ranting yang tipis. Masa pembungaan di beberapa daerah Indonesia, seperti di Kalimantan Selatan pada bulan Oktober sampai Nopember; di Palembang sekitar bulan Agusutus sampai Nopember; di Jambi pada bulan April, Juni, Nopember dan Desember.


Bunga dan Buah Ulin
(Lap.No.141, LPH Bogor, 1972)

Awal berbuah (termasuk pembungaan) setelah berumur ± 20 tahun. Ulin berbuah setiap tahun. Buah masak tidak serentak, tetapi secara berangsur-angsur selama ± 3 bulan. Panen raya berbeda-beda sesuai masa berbunga di tiap daerah. Di Palembang terjadi pada bulan Juli dan Agustus. Di Belitung sekitar bulan Maret. Buah yang dihasilkan saat panen raya dapat mencapai ± 15.000 buah.
Buah yang cukup baik untuk dijadikan bibit setelah masa pembuahan yang ketiga. Disamping itu pula buah yang tua (masak) yang jatuh ke tanah. Buah yang tua dapat disimpan selama 6 – 12 bulan. Bentuk buah (Eusisedroxylon zwageri) bulat memanjang (bulat melonjong). Panjang buah 10 – 18 cm dengan diameter sekitar 7 – 10 cm. Berbeda dengan ulin tiang bahwa buah berbentuk bola seperti bola pimpong atau golf tapi agak lebih besar.

Sesuai dengan bentuk buah, bentuk bijipun (Eusisedroxylon zwageri) bulat memanjang. Panjang biji sekitar 8 – 15 cm dengan diameter sekitar 4 – 7 cm. Ini juga berarti ketebalan endocarp (termasuk kulit; ketebalan kulit ± 0,5 mm) sekitar 1 – 1,5 cm. Bagaimana menghilangkan endocarp termasuk kulit dalam waktu relatif belum ada penelitian. Percobaan yang pernah dilakukan adalah dengan memasukkan buah-buah ke dalam tanah (dibuat lubang dan setelah buah-buah dimasukkan kemudian ditutup kembali dengan tanah) selama 1 – 2 bulan (Beekman, 1949). Maksudnya agar kulit dan endocarp membusuk dan biji mudah dibersihkan.
Tebal tempurung biji ± 5 mm. Berat biji ± 29/biji atau sekitar 30 – 40 biji/kg.


Biji ulin sirap dan ulin tiang

Perakaran panjang, kuat dan menyerupai permadani tipis. Terbentunya perakaran demikian bila tumbuh pada tanah berpasir dan miskin hara.

Penyebaran & Habitat
Penyebaran ulin secara vertikal dari tepi pantai hingga ketinggian ± 400 m dpl. Terkadang ditemui pula hingga ketinggian 625 m dpl. Di kalimantan menyebar pada hutan campuran dan terdapat sekitar 10 - 20 pohon/ha dengan masa kayu sekitar 20 – 30 m3. Di wilayah hutan Palembang dan Jambi tumbuh menyebar secara sporadis hingga mencapai luas 10.000 ha dengan rata-rata hektar ± 60 pohon dengan masa kayu ± 100 m3. Penyebaran ulin secara horizontal (geografis) dari 50LU - 30LS. Sebaran ini hanya meliputi pulau Kalimantan (termasuk pulau Laut, pulau Sebuku), pulau Bangka, pulau Belitung dan pulau Sumatera (Sumatera Barat, Riu, Jambi, Bengkulu, Siak, Indragiri, Sumatera Selatan).
Habitat ulin pada tanah berpasir yang lembab, sekurang-kurangnya tanah pasir berlempung. Pada tanah berair (rawa) atau secara periodik tergenang air tak pernah dijumpai ulin. Ini berarti ulin tumbuh pada tanah yang beraerasi baik. Di wilayah hutan Pelaihari dan Kintap (Kalimantan Selatan) dijumpai ulin tumbuh pada tanah yang terdiri dari andesit dan gabbro. Di wilayah hutan Kalimantan Tengah dijumpai ulin tumbuh pada tanah kering berpasir atau tanah berpasir kuarsa. Tapi ulin tidak menyukai (kurang sesuai) tumbuh pada tanah yang mengandung kapur.

Kondisi Iklim
Iklim yang dikehendaki lembab atau pada daerah yang musim keringnya tidak begitu menyolok. Di Kalimantan Selatan seperti di Hatungun (2.269 mm, tipe B), Batulicin (2.200 mm, tipe B) dan Kintap (2.407 mm, tipe B). Di Kalimantan Tengah seperti Ajang-Arut (2.600 mm, tipe A), Kawan-Batu (2.626 mm, tipe A). Di Kalimantan Timur seperti Nunukan (3.800 mm, tipe A), daerah pantai Kutai (1.500 mm, tipe B), daerah pendalaman Kutai (2.500 mm, tipe A).
Ulin akan tumbuh baik pada temperatur rata-rata tahunan ± 260C seperti di wilayah hutan Kintap dan Nunukan. Sedangkan pada hutan dipterocarpaceae temperatur sekitar 260 – 270C.
Pertumbuhan ulin akan baik tergantung dari tipe iklim, sifat fisik tanah dan tidak tergantung dari sifat kimia tanah (Claasen & Van Steenis dalam Beekman, 1949).

A2Karim