Learn & Learning

Learning knows no gender, time & space

Wednesday, October 07, 2009

KAJIAN FAKTOR BENTUK *)

Posted by a2karim

Faktor bentuk dinyatakan dalam bentuk angka koreksi terhadap bentuk batang yang tidak silinder. Angka bentuk pohon setiap jenis pada hutan tropika belum tersedia secara keseluruhan, sehingga penaksiran potensi pohon masih memakai faktor pohon yang berlaku untuk semua jenis pohon adalah 0,7.

Tujuan penelitian ini:
1)Mengkaji faktor bentuk pohon pada lima pohon rimba campuran yaitu Kayu Arang, Binuang, Kuranji, Medang dan Jabon.
2)Mengkaji secara teknis pengukuran panjang batang dalam menetapkan faktor bentuk pohon.

Manfaat yang diharapkan:
1)Menghasilkan prediksi volume pohon berdiri lima jenis rimba campuran mendekati kenyataan lapangan sebagai dasar dalam perencanaan produksi hasil hutan berupa kayu secara berkelanjutan.
2)Sebagai pijakan dari aspek teknis terhadap pengukuran panjang batang dalam penentuan volume pohon.

Rumusan faktor bentuk sebagai koreksi bentuk dilakukan sebagai berikut:


Penentuan faktor bentuk volume pohon bebas cabang

Berdasarkan ilustrasi di atas dapat dirumuskan permasalahan sebagai berikut:
1)Apakah faktor bentuk kelima jenis rimba campuran memiliki angka berbeda?
2)Apakah pengukuran panjang batang dalam menentukan volume pohon dapat dipertanggung jawabkan secara teknis?

Langkah pelaksanaan penelitian diilustrasikan seperti diagram berikut:



Pelaksanaan penelitian :
1) Penentuan petak contoh; petak ukur sebagai petak contoh berukuran 1.000 m x 1.000 m dengan lebar jalur 20 m. Metoda pengamatan secara sistematik.
2) Pemilihan jenis; jenis dipilih dari hasil telaahan dokumen LHC dengan memperhatikan KepMenHut tentang Pengelompokan Jenis Kayu Rimba Campuran.
3) Penentuan pohon contoh; dipilih sedapat mungkin menyebar rata dengan memperhatikan kondisi geografis dan struktur tegakan. Dari sejumlah pohon contoh yang diperoleh ditetapkan 75 pohon contoh setiap jenis, sehingga kelima jenis pohon yang diamati sejumlah 375 pohon.

4) Pengukuran dimensi pohon; (a) diameter diukur dengan cara mengukur keliling batang pohon setinggi 130 cm dari permukaan tanah. Pengukuran tinggi pohon hingga sampai setinggi bebas cabang pertama.
(b) pengukuran dimensi batang dilakukan tiap 1 meter (seksi 1), 2 meter (seksi 2) dan tanpa seksi (secara frustrum). Pengukuran diameter pangkal dan ujung batang (frustrum) dilakukan masing-masing dua kali, sedangkan antara seksi diukur kelilingnya. Dimensi batang dimaksud adalah batang pohon sudah berupa kayu bulat (tanpa kulit).



Tata cara pengukuran dimensi batang seperti ilustrasi berikut.


(c) pengukuran tinggi tunggak dari pangkal batang hingga batas tebangan. Mengingat pangkal batang bekas tebangan (bontos pangkal batang) dilakukan perapian (trimming), maka bagian tersebut dimasukkan ke dalam pengertian tunggak.





(d) pengukuran tebal kulit dilakukan pada batas pangkal tunggak dan setiap antara dua seksi. Letak pengukuran tebal kulit seperti ilustrasi berikut.




5) Pengolahan data; (a) volume pohon (dengan dan tanpa kulit) dihitung dengan menggunakan f130 (0,7) dan berupa volume silinder pohon, (b) rumusan penentuan volume batang tiap seksi maupun volume tunggak berdasarkan rumus Brereton, berupa volume seksi (seksi 1 dan seksi 2), volume frustrum dan volume tunggak diperoleh Vps = Vss + Vtg (volume pohon berdasarkan seksi 1 m dan seksi 2 m) dan Vpf = Vfb + Vtg (volume berdasarkan frustrum), (c) rumusan-1 f(SS) = Vps/Vsp dan rumusan-2 f(FR) = Vpf/Vsp.

6) Kajian faktor bentuk:
(a) uji kesamaan rataan berupa:
(1) rumusan hipotesis Ho : µ = µo atau Ho : µ = 0,7 ; H1 : µ  µo atau Ho : µ  0,7
(2) kriteria pengujian
(3) keputusan uji: (3a) terima Ho berarti tidak ada perbedaan (seragam) antara faktor bentuk f(BC) terhadap faktor bentuk 0,7, (3b) tolak Ho berarti terdapat perbedaan antara faktor bentuk f(BC) terhadap faktor bentuk 0,7.

(b) uji kesamaan dua rataan berupa:
(1) rumusan hipotesis Ho : µ1 = µ2 ; H1 : µ1  µ2
(2) kriteria pengujian
(3) keputusan uji: (3a) terima Ho berarti tidak ada perbedaan antara faktor bentuk terhadap pasangan f(SS) dan f(FR), (3b) tolak Ho berarti terdapat perbedaan antara faktor bentuk terhadap pasangan f(SS) dan f(FR).

Hasil kajian faktor bentuk pada uji kesamaan rataan

1) kajian dengan kulit melalui uji kesamaan rataan faktor bentuk


Keterkaitan panjang pengukuran (seksi) terhadap faktor bentuk dengan kulit diilustrasikan sebagai berikut:


2) kajian tanpa kulit melalui uji kesamaan rataan faktor bentuk


Keterkaitan panjang pengukuran (seksi) terhadap faktor bentuk dengan kulit diilustrasikan sebagai berikut:


Hasil kajian faktor bentuk pada uji berpasangan

1) kajian dengan kulit melalui uji berpasangan faktor bentuk


2) kajian tanpa kulit melalui uji berpasangan faktor bentuk


Kesimpulan & Saran hasil kajian:
(1) faktor bentuk kelima jenis dengan kulit mendekati 0,8, kecuali jenis untuk Binuang sebesar 0,7 dan faktor bentuk tanpa kulit 0,7.
(2) Kelima jenis memiliki faktor yang sama pada pengukuran 1 meter, 2 meter dan frustrum, kecuali jenis Medang mempunyai faktor bentuk berbeda pada pengukuran seksi dan seksi 2 dengan kulit.
(3) faktor bentuk dengan kulit pada pengukuran seksi 1 meter, 2 meter dan frustrum berbeda sangat nyata terhadap faktor bentuk 0,7.
(4) Faktor bentuk tanpa kulit dengan pengukuran seksi 1 meter, 2 meter dan frustrum berbeda sangat nyata hanya pada jenis Binuang terhadap faktor bentuk 0,7
(5) Pengukuran panjang batang kelima jenis rimba campuran cukup dilakukan secara frustrum atau tanpa saksi. Khusus jenis Medang dapat pula diukur sepanjang 2 meter.
(6) Untuk memperoleh potensi jenis rimba campuran yang lebih akurat sebaiknya menggunakan faktor bentuk tanpa kulit.
(7) Untuk menetapkan potensi kayu kelima jenis yang diteliti dianjurkan menggunakan faktor bentuk 0,7017 (Kayu Arang), 0,6752 (Binuang), 0,7049 (Kuranji), 0,6994 (Medang) dan 0,6998 (Jabon).

A2Karim
*) Judul asli: KAJIAN FAKTOR BENTUK POHON LIMA JENIS RIMBA CAMPURAN DI HPH PT. AYA YAYANG INDONESIA, KALIMANTAN SELATAN (Tesis Program Studi Ilmu kehutanan, Universitas Lambung Mangkurat, Banjarbaru, 2003)
**) Ringkasan & disusun ulang

Saturday, September 05, 2009

Mengenal Galam Cajuputi*

Posted by a2karim

1. Nama Botanis
Galam merupakan genus Melaleuca dari famili Myrtaceae. Pada awalnya nama botanis galam (lahan rawa gambut atau pasang surut) adalah Melaleuca leucadendron Linn. samadengan nama galam kayu putih (Tim Teknisi Eksploitasi Hutan, 2000). Sacara morfologis adalah sama, tapi untuk kandungan minyaknya berbeda. Galam kayu putih lebih banyak mengandung “minyak kayu putih” dibanding galam lahan rawa. Sehingga penamaan botanis untuk galam lahan rawa (gambut atau pasang surut) adalah Melaleuca cajuputi Roxb (Proyek PKKHNNK, 1973 dan Lazuardi, 2000).
Masyarakat di desa Antar Raya (Kab. Barito Kuala, Prop. Kalimantan Selatan) membedakan jenis galam ke dalam 2 varitas, yaitu galam tembaga dan galam putih. Galam tembaga memiliki kulit lebih tipis dan lebih licin dari kulit galam putih. Galam tembaga biasanya tumbuh di tepi-tepi sungai dan galam putih tumbuh agak lebih ke dalam (Tim Teknisi Eksploitasi Hutan, 2000; Oktriyana, 2003).

2. Sifat Botanis
Sifat fisik pohon galam tidak berbanir. Bentuk batang bulat panjang, agak lurus dan tinggi dapat mencapai 15 meter atau lebih. Tinggi bebas cabang dapat mencapai ±60%.
Batang terbungkus dengan kulit oleh kulit-kulit tipis yang berlapis-lapis sehingga membentuk kulit yang tebal, berwarna kekuning-kuningan dan amat mudah lepas. Bila lapisan kulit tebal terserbut kering akan bersifat seperti gabus, sehingga tidak mudah menyerap air. Kayunya keras, berat jenis 0,85, kelas awet III dan kelas kuat II (Tim Teknisi Eksploitasi Hutan, 2000).

3. Pertumbuhan
Hutan galam merupakan hutan khas daerah hutan rawa gambut dengan kemasaman tanah yang cukup tinggi. Umumnya hutan galam merupakan hutan homogen. Namun ada pula yang tumbuh di hutan air tawar. Disamping pohon galam merupakan pohon toleran terhadap kondisi tanah masam dan tergenang.


Hutan Galam ini berada di jln Lingkar Utara (jln Gubernur Syarkawi) (kiri: latar belakang htn galam dengan latar depan yang sdh dimanfaatkan ; kanan: htn galam yang terbakar dengan latar belakang RuSaJi "Sambang Lihum"). Kec. Gambut, Kab. Banjar. (Foto 090905N73)
Awal musim penghujan hutan galam yang telah terbakar akan tumbuh kembali dengan tumbuhan bawah sebagian besar jenis paku-pakuan.

Pertumbuhan galam yang berasal dari :
1) biji (generatif) umumnya relatif lurus dan mempunyai bentuk percabangan monopodial. Sehingga batangnya banyak digunakan untuk bahan/kayu bangunan.
2) trubusan mempunyai bentuk batang cenderung bengkok dengan bentuk percabangan sympodial. Sehingga pemanfaatan batang untuk kayu bakar. Kecuali bila diameter batang > 20 cm dengan panjang batang bebas cabang > 4 meter dijadikan kayu pertukangan (Lazuardi, 2000).


Galam berasal dari biji (kiri) & trubusan (kanan) (090909N73)
Kec : Landasan Ulin (PemKo Banjarbaru)

Klasifikasi tingkat pertumbuhan (Daryono, 2000) jenis galam lahan rawa gambut (Melaleuca cajuputi Roxb) adalah :
1) Tingkat semai dengan diameter <> 2 cm – 10 cm
3) Tingkat tiang dengan diameter > 10 cm - 20 cm
4) Tingkat pohon dengan diameter > 20 cm



Galam pada tingkat semai, pancang, Tiang & Pohon (090909N73)
Kec : Landasan Ulin (PemKo Banjarbaru) & Mtp. Barat (Kab. Banjar)

Bentuk tajuk tidak teratur, agak jarang dan selalu hijau. Daun berbentuk bulat telur (ellips) dan meruncing di bagian ujungnya (Direktorat Bina Program, 1975).

4. Manfaatnya
Pohon galam bermanfaat serba guna sejak dari buah, daun, kayu hingga kulitnya. Namun yang banyak dimanfaatkan selama ini adalah berupa kayu batang dan kayu bakar. Secara garis besar pemanfaatannya dirangkum menjadi pemanfaatan bersifat ekonomi dan ekologis.

1) Manfaat Ekonomi
a. Kayu galam dimanfaatkan antara lain :
# kayu galam sangat berperan dalam pembangunan rumah dan gedung bertingkat yaitu sebagai pondasi cerucuk dan penyangga waktu pengecoran beton. Juga sebagai bahan baku penunjang.


Pembangunan rumah & Masjid Darul Muhsinin (090906N73)
Kec : Mtp Timur (Kab. Banjar) & Bati-bati (Kab. Tanah Laut)

# sebagai "siring" (penyangga tanah sementara) untuk jalan atau halaman rumah.


Urukan tanah pembuatan jalan (kiri)dan halaman rumah (kanan) (090906N73)
Kec. Liang Anggang (PemKo Banjarbaru) & Kec. Mtp Barat (Kab. Banjar)

# sebagai cerucuk (bhs Bnjar) yaitu penyangga saat pembuatan jalan layang & jembatan penyeberangan.


Jln layang & jbtan penyeberangan (desa Tangkas & Sungai Kitanu) (090907N73)
Kec. Martapura Barat (Kab. Banjar)

# di pedesaan lebih banyak digunakan sebagai kayu bakar.


Kayu bakar siap belah (kiri) & siap jual (kanan) (090906N73)
Kec. Bati-bati (Kab. Tanah Laut)

# sebagai bahan baku kerajinan seni seperti bentuk asbak rokok.
# sebagai bahan baku penggergajian, pembuatan arang dan briket arang.
# sebagai pahalatan (bhs Banjar) yaitu batas tanah hak milik sementara (biasanya ditanam pada galangan batas, lihat ada patok batas) yang sekaligus sebagai peneduh. Namun ada pula yang menggunakannya sebagai peneduh rumah.


Penggunaan galam sebagai pahalatan dan peneduh rumah (090908N73)
Kec. Sungai Tabuk (Kab. Banjar)

b. Kulit kayu tidak banyak dimanfaatkan. Bila tak ada pembeli atau tidak digunakan sendiri biasanya hanya dibakar begitu saja. Kulit yang dibeli atau untuk keperluan sendiri digunakan sebagai "himbukan"; yaitu menutup lubang dengan kulit kayu galam dan setelah cukup padat, kemudian ditutup dengan tanah (penghematan sementara). Biasanya (info masy.) setelah 3 bulan akan terjadi penurunan dan selanjutnya akan diisi/diratakan dengan tanah.


Kulit kayu dan himbukan di depan rumah (090906N73)
Kec. Bati-bati (Kab. Tanah Laut)

c. Daun galam digunakan sebagai bahan baku pembuatan obat-obatan. Minyak kayu putih disebut juga sebagai cajaput oil (Proyek PKKHNNK, 1973) atau kajaput (Tim Teknisi Eksploitasi Hutan, 2000).
d. Buah galam yang telah dikeringkan, dimanfaatkan sebagai pengganti lada hitam. Pemanfaatan ini dilakukan masyarakat di desa Antar Raya, Sungai Raya dan trans Talaran (Kab. Barito Kuala) sebagai nilai tambah (Oktriyana, 2003). Buah-buah tersebut dijual melalui Agen dan selanjutnya dikirim ke industri di Jawa untuk pembuatan jamu (pengganti merinca) dan memperbanyak komposisi jamu (Jamu Air Mancur, Salatiga).


Bunga, buah muda & buah tua (090906N73)
Kec. Liang Anggang (PemKo Banjarbaru)

2) Manfaat Ekologis
Galam termasuk jenis tumbuhan yang tahan terhadap kebakaran dan kekeringan. Ini disebabkan ekologis galam yaitu fire-climax, dimana daerah bekas kebakaran menyebabkan biji galam akan tumbuh dengan cepat dan lama kelamaan akan mendominasi daerah tersebut (Lazuardi dan Supriadi, 2000).
Galam juga memiliki toleransi yang tinggi terhadap kebakaran. ini disebabkan adanya kulit yang tebal, sehingga mampu menahan panas yang berlebihan dan mampu melindungi kambium dari kerusakan.
Galam tidak memerlukan persyaratan tumbuh yang tinggi, terutama kesuburan tanah. Daya tumbuh dan toleransi yang tinggi mampu tumbuh pada tanah yang kurang subur.
Daun muda (pucuk) merupakan sumber makanan bagi bekantan (Nasalis larvatus) (Soendjoto dan Akhdiyat, 2001).

5. Sebaran
Galam (Melaleuca spp) tersebar di Asia Tenggra dari Semenanjung Malaka hingga ke Kepulauan Maluku (terdapat di Fhilipia). Khusus di Kalimantan Selatan menyebar secara alami di lahan rawa gambut dan pasang surut (rawa air tawar). Juga ditemukan di lahan yang relatif kering (bekas hutan kerangas) seperti di Sebuhur, Liang Anggang. Sedangkan keberadaan hutan galam di wilayah Kelurahan Landasan Ulin (PemKo Banjarbaru) akibat adanya intervenasi air daerah Liang Anggang Kec. Bati-bati (Kab. Tanah Laut).

*) Hasil Jelajah dan Ulasan dari judul asli “Potensi Hutan Galam dan Pemanfaatannya di Kelurahan Landasan Ulin Timur, Kecamatan Landasan Ulin, Banjarbaru”, Tahun 2003. Karim,A.A. Fakultas Kehutanan Unlam, Banjarbaru (Makalah/Tesis).

A2Karim

Sunday, August 09, 2009

Pertumbuhan Anakan Ulin

Posted by a2karim

Intensitas cahaya matahari yang dibutuhkan anakan ulin lebih-kurang 37,5 s/d 45 %. Pertumbuhan tanaman Ulin termasuk lambat. Untuk memacu pertumbuhannya, terutama pada tingkat anakan, dilakukan (pada penelitian ini) pemberian mikoriza berupa tablet ektomikoriza.

Pengamatan tahun perama (Februari 2008), menunjukkan bahwa :
a) persentase hidup 62,22 %,
b) tinggi tanaman (setelah 1 tahun berjalan) = 29 – 95 cm, dengan tinggi rata-rata berkisar 61,4 cm,
c) pemberian ektomikoriza tidak berpengaruh terhadap pertumbuhan tinggi.

Peneliti : Achmad Rivai Noor dan Yustina Savitri. Selengkapnya .....

Disarikan oleh : A2Karim

Friday, May 15, 2009

Angkis Meratus*

Posted by a2karim

Angkis (bhs Dayak Loksado, Pegunungan Meratus) lebih dikenal dengan sebutan sarang-semut (samut). Jenis angkis yang banyak ditemukan adalah Myrmecodia tuberosa Bentuknya mirip umbi, di bawah batang tanaman yang menggelembung. Bagian yang menggelembung itulah yang banyak dimanfaatkan sebagai bahan baku obat dan digunakan masyarakat sebagai tanaman obat. Di dalamnya terdapat tiga jenis semut Irydomyrmex sebagai penghuninya.
Sampai saat ini belum ada data base yang menginformasikan komposisi jenis dan potensi angkis berdasarkan karakteristik ekologis habitatnya. Sementara peredaran angkis alam di pasaran sebagian besar berasal dari kawasan hutan lindung Loksado di Pegunungan Meratus, Kalimantan Selatan. Angkis tersebut diproduksi dalam bentuk ekstrak sebagai minuman suplemen.
Hasil penelitian diharapkan dapat memberikan informasi karakteristik ekologis habitatnya sehingga dapat dijadikan sebagai data base dan sekaligus sebagai upaya pembudidayaannya untuk menunjang kelestarian angkis di hutan alam.
Tumbuhan angkis ini secara morfologi terbagi atas umbi, batang, daun dan bunga. Umbi batang angkis yang ditemukan ada yang bulat dan ada yang bulat memanjang (lonjong). Bentuk lonjong ini yang paling banyak ditemukan. Demikian pula bentuk daunnya bulat memanjang (lonjong). Permukaan umbi batang berwarna cokelat keabu-abuan dan diselimuti oleh duri-duri kecil. Ketika umbi batang tersebut dibelah, akan nampak lapisan dalam yang berongga-rongga dan di dalamnya banyak dihuni oleh semut.
Memperhatikan ukurannya diperoleh angkis (Myrmecodia tuberosa)berukuran kecil (p-rata2 = 5 cm; d-rata2 = 3-5 cm; berat basah = 0,25 kg/umbi ) dan berukuran besar (p-rata2 = 40 cm; d-rata2 = 15 cm; berat basah = 5 kg/umbi).

Bunga angkis sangat kecil dan berwarna orange. Pembungaan mulai sejak beberapa ruas terbentuk dan ada pada tiap buku. Dua bagian pada setiap bunga berkembang pada suatu kantong udara yang berbeda. Alveoli tersebut mungkin ukurannya tidak sama dan terletak pada tempat yang berbeda di batang. Kuntum bunga muncul pada dasar alveoli. Di dalam bunga tersebut terdapat biji.

Hasil inventarisasi jenis pohon inang angkis (terurut sesuai gambar) adalah asam, bayuan, bijai, cangkring (dadap), gala-gala, gintungan, hambawang, jalamo, karet, kasturi, kemiri, merumbung, mikumbang, rambutan, tiwadak/cempedak.

Penyebaran sarang semut selain berada pada wilayah topografi lereng bawah dan dekat sungai, untuk saat ini keberadaannya meliputi penutupan vegetasi berupa hutan, perkebunan (kebun campuran), belukar dan kawasan pemukiman.

Menurut masyarakat, ada 2 jenis angkis yang sering ditemukan di hutan, yaitu angkis merah dan angkis putih. Perbedaan keduanya terletak pada warna batangnya jika dibelah. Pada angkis merah, setelah dibelah batangnya kelihatan di dalamnya warna merah dan pada angkis putih, warna batang bagian dalamnya berwarna putih. Angkis merah sudah sangat jarang ditemui, bahkan dalam penelitian ini belum/tidak ditemukan lagi angkis merah tersebut.

Team Peneliti

Berdasarkan analisa lapangan diperoleh bahwa :
1. Hanya ditemukan 1 jenis angkis (Myrmecodia tuberosa) dan oleh masyarakat dikenal sebagai ”angkis putih”.
2. Tumbuhan yang ditemukan sebagai pohon inang angkis sebanyak 15 jenis (aslinya 17 jenis).
3. Potensi pohon inang rata-rata sebanyak 11,5 pohon/ha. Potensi angkis rata-rata sebanyak 127 buah/ha. Atau secara keseluruhan (kecamatan Loksado) ditemukan sekitar 102.127 pohon inang dan angkis sebanyak sebanyak 1.127.841 buah.
4. Angkis di kecamatan Loksado diperkirakan seberat 3.383.524 kg atau hampir 3,4 ton berat basah.
5. Kondisi ekologi yang paling berperan tentang keberadaan angkis adalah intensitas cahaya.

*) Judul asli : "INVENTARISASI KOMPOSISI JENIS DAN POTENSI TUMBUHAN SARANG SEMUT (MYRMECODIA SP) BERDASARKAN KARAKTERISTIK EKOLOGIS HABITATNYA DI KAWASAN HUTAN PEGUNUNGAN MERATUS KALIMANTAN SELATAN"
*) Peneliti : IR. GUNAWAN, MP; DRS. SUYANTO, MP; HAFIZIANOR, S.HUT, MP

Disarikan oleh A2Karim

Saturday, March 28, 2009

Potensi Hutan Galam di PemKo Banjarbaru*

Posted by a2karim

Sebenarnya sebaran hutan galam di Kalimantan Selatan cukup luas. Bahkan kemampuan produksinya cukup tinggi. Sebaran hutan galam di Kalimantan Selatan sebagian antara lain di Kab. Barito Kuala (± 60.000 ha), Kab. Tanah Laut (± 10.130 ha) dan Kab. Tapin (± 42.000 ha). Hutan galam juga terdapat di Kab. Hulu Sungai Utara, Kab. Banjar dan Pemerintah Kota Banjarbaru, namun luasannya belum terdata. Khusus di Kelurahan Landasan Ulin Timur (Pemko Banjarbaru) ditemukan ditemukan 12.000 pohon galam (Dinas Pertanian dan Kehutanan Kota Banjarbaru, 2001).


Tingkat Semai ; Tingkat Pancang ; Tingkat Tiang

Hutan galam di Pemerintahan Kota Banjarbaru berada di sekitar Bandara Syamsudin Noor (sebelah utara dan selatan) dan di daerah Liang Anggang. Belum ada upaya untuk membudayakannya agar dapat memberikan hasil yang berkesinambungan. Kebutuhan masyarakat terhadap kayu galam semakin meningkat, sehingga menurut Forum Komunikasi Lingkungan (1998) bahwa keberadaan hutan galam di Kalimantan Selatan semakin terancam kelestariannya.
Berdasarkan hasil inventarisasi (Penarikan Contoh secara Klaster, “Cluster Sampling”) yang dilakukan pada sebaran hutan galam di Kelurahan Landasan Ulin Timur (Kec. Landasan Ulin, Kota Banjarbaru) dengan 4 (empat) lokasi pengamatan (Handil 4, Handil 5, Handil 6 dan Tambak Buluh) diperoleh :

Kejelasan rataan jumlah per petak dan per ha tiap tingkat pertumbuhannya ke-empat lokasi pengamatan sebagai berikut :

Berdasarkan hasil pengamatan di atas bahwa anakan galam di Kelurahan Landasan Ulin Timur cukup berpotensi dan berpeluang untuk meningkatkan nilai tambah.
Sebagai sumber mata-pencaharian bagi masyarakat peramu galam hanya bersifat memungut dan tidak mengadakan pembinaan. Alasannya sangat sederhana bahwa galam yang diramu berada pada lahan hutan negara. Sedangkan yang berada tanah milik hanya sebagian kecil dan merupakan lahan tidur. Tidak dibinanya potensi ini (penjelasan masyarakat pemilik lahan), karena memerlukan dana yang cukup besar, pasokan galam dari Kab. Barito Kuala berkaulitas baik dan sebagai kayu bakar tersaing dengan minyak tanah.

*) Diulas dan disarikan dari judul asli “Potensi Hutan Galam dan Pemanfaatannya di Kelurahan Landasan Ulin Timur, Kecamatan Landasan Ulin, Banjarbaru”, Tahun 2003. Karim,A.A. Fakultas Kehutanan Unlam, Banjarbaru (Makalah/Tesis).

A2Karim